Naluri dan Nurani: Faktor Kepribadian yang mempengaruhi Kecerdasan Spiritual Seseorang.
Naluri dan
Nurani: Faktor Kepribadian yang mempengaruhi Kecerdasan Spiritual Seseorang.
(Instinct and Conscience: Personality Factors
affecting someone Spiritual Intelligence.)
Pertanyaan
seputar kehidupan beragama tidak akan pernah berakhir. Kadang kala kita melihat
seseorang dengan reputasi agama yang sangat baik (dalam hal pengetahuan maupun
pengamalan ibadah), tetapi melakukan tindakan moral yang sangat memalukan.
(Questions about religious life will never end.
Sometimes we see someone with a very good reputation of religion (in terms of
knowledge and practice of worship), but the moral act is shameful.)
Perlu
dipertanyakan kembali, apakah Spiritual
Knowledge dan Spiritual Behavior
sudah cukup untuk membuat orang dikatakan memiliki kecerdasan Spiritual yang
baik. Perlu diingat kembali sebenarnya kecerdasan Spiritual, khususnya Spiritual Knowledge dan Spiritual Behavior merupakan dimensi
yang mudah diukur karena merupakan suatu keadaan yang kasat mata. Tetapi karena
rentang yang sangat luas pada kedua dimensi tersebut menimbulkan berbagai
kesulitan dalam pengukuran dikarenakan rentangan pengetahuan yang sangat luas
di dalamnya.
(Needs to be questioning again, whether Spiritual
Knowledge and Behavior is enough to make people say have a good spiritual
intelligence. Keep in mind the actual return Spiritual intelligence, especially
Spiritual Knowledge and Behavior is an easily measured dimension because it is
an invisible condition. But due to a very wide range in both dimensions pose
difficulties in the measurement due to a very wide range of knowledge in it.)
Bisa dicontohkan
untuk Spiritual Knowledge, dalam
agama Islam, ada tiga acuan dasar hukum yaitu Al-Qur’an, Sunnah (Hadits), dan
Ijtihad. Dari ketiga rentangan ini dapat dibedakan menjadi amalan yang vertikal
(hablum minallaah/ibadah) dan yang
horizontal (hablum minannaas/muamalah).
Dari keadaan yang kompleks tersebut muncul suatu penyederhanaan untuk melihat
kecerdasan Spiritual dari faktor kepribadian.
(Can be exemplified for Spiritual Knowledge, in
Islam, there are three basic references the law of the Qur'an, the Sunnah
(Hadith), and Ijtihad. Of the three this range can be divided into the practice
of vertical (hablum minallaah / worship) and the horizontal (hablum minannaas /
muamalah). Of the complex situation appears a simplification to see the
spiritual intelligence of personality factors.)
Allah sudah
menciptakan segala hal yang ada di dunia ini secara berpasangan, baik itu malam
dan siang, gelap dan terang, laki-laki dan perempuan, begitu pula dengan
kepribadian. Allah telah menciptakan dua faktor pembentuk kepribadian, yaitu
naluri dan nurani.
(God has created all things in this world in pairs,
both night and day, darkness and light, male and female, as well as
personalities. Allah has created two personalities forming factors, that is instinct and
conscience.)
Naluri merupakan
suatu sifat yang instinktif, sperti halnya Id. Hanya saja jika Id kadang lebih
dinyatakan oleh Freud diatur dengan asas kesenangan, jika naluri muncul lebih
karena keinginan diri untuk bertahan hidup. Jika Id lebih ditekankan untuk pemenuhan
kesenangan, naluri ditekankan sebagai mekanisme mempertahankan diri. Jadi
sebagai kesimpulan naluri jika tidak terkendali akan menjadi Id yang hanya
sebagai sekedar pemuasan kesenangan dikarenakan kebutuhan untuk mempertahankan
dirinya tetap pada area kesenangan tersebut agar seseorang merasa bisa hidup.
(Instinct is an instinctive trait, just as well as
Id. If
Id sometimes better expressed by Freud governed by the pleasure principle, if
the instincts themselves appear more of a desire to survive. If Id is
emphasized for the fulfillment of pleasure, the instinct is emphasized as a
mechanism of self-defense. So in conclusion if unchecked instinct would be that
Id only as a mere gratification of pleasure due to the need to defend him
remained in the area for a person to feel pleasure to live.)
Dilain pihak
terdapat terdapat faktor Nurani yang berusaha mengimbangi atau lebih tepatnya
mengontrol Naluri. Dalam Al-Qur’an sudah disebutkan bahwa pada saat awal
penciptaan manusia, Allah meniupkan ruh kedalam diri manusia. Dari sini bisa
disimpulkan munculnya God Spot dalam
otak manusia. God Spot inilah yang memunculkan adanya Nurani, keinginan untuk
berbuat sesuai dengan 99 sifat Allah. Nurani juga yang memunculkan keinginan
seseorang untuk menolong dan mematuhi aturan tanpa paksaan.
(On the other hand there are factors to offset
Conscience or rather the control Instincts. In the Qur'an has mentioned that at
the beginning of the creation of man, God breathed into man the spirit. From
this it can be concluded emergence Spot God in the human brain. Spot God is
what gave rise to the conscience, the desire to act in accordance with the 99
attributes of Allah. Conscience also gave rise to one's desire to help and obey
the rules without coercion.)
Pada saat orang
melakukan suatu tindakan, kadang orang tidak pernah berpikir pada saat itu yang
melakukan memegang kendali pada tindakannya itu naluri atau nuraninya? Orang
cenderung melakukan tindakan secara spontan baik itu tindakan yang baik maupun
yang jahat.
(At a time when people perform an action, sometimes
people never thought at that time that did control the actions that instinct or
conscience? People tend to act spontaneously both actions both good and evil.)
Orang tidak
berpikir lagi apakah nuraninya menginginkan demikian. Karena naluri itulah yang
bersifat spontan, bersifat mempertahankan diri. Nurani sering kali
tersingkirkan dan terabaikan. Hal inilah yang menjelaskan kenapa seorang yang
memiliki tingkat kecerdasan Spiritual yang kita anggap tinggi tetapi tetap
melakukan tindakan yang memalukan.
(People do not think anymore whether the conscience want it so. Because that's
what spontaneous instinct, is to defend them. Conscience is often left out and
neglected. This explains why a person who has a level of intelligence that we
consider spiritual high but still a shameful act.)
Nurani adalah
faktor kepribadian yang bisa memunculkan Spiritual
Insight. Tanpa nurani yang timbul hanya keegoisan dari naluri. Keegoisan
naluri ini menimbulkan hambatan perkembangan kecerdasan Spiritual pada tahapan Spiritual Knowledge dan Spiritual Behavior. Sehingga untuk
keadaan ideal Spiritual Behavior yang
sebenarnya menjadi tidak tercapai.
(Conscience is the personality factors that could
lead to Spiritual Insight. Without conscience, the instinct is emerge for selfishness
only. Selfishness instinct raises barriers to the development of intelligence
in stages Spiritual Knowledge and Behavior. So the ideal situation for
Spiritual Behavior actually is achieved.)
Komentar